Selasa, 18 Januari 2011

Ciri Etos Kerja Muslim

Toto Tasmara dalam bukunya Membudayakan Etos Kerja Islami menyebutkan ada 25 ciri etos kerja muslim, dan semuanya itu bertumpu pada Akhlakul Karima, antara lain :

Menghargai Waktu
Orang yang memiliki etos kerja menjadikan waktu sebagai sesuatu yang sangat berharga. Dia tidak mau ada waktu yang dilewati tanpa makna. Waktu adalah rahmat Allah yang harus diisi dengan amal saleh (QS. 103 :1-3), dan tidak memboroskannya karena memboroskan dan menyia-nyiakan waktu adalah kerugian serta penyesalan. Imam Al-Ghazali pernah bertanya kepada muridnya tentang waktu. Jelaskan padaku apa menurtmu yang terjauh dari dirimu...?? muridnya menjawab yang terjauh dari diriku adalah timur dan barat, Al-Ghazali mengatakan tidak yang terjauh dari dirimu adalah masamu yang lalu walaupun baru kamu lewati satu detik, kamu tidak dapat mengejarnya kembali. Pengertian waktu disini adalah rasa tanggung jawab yang sangat besar terhadap permanfaatan kehidupan ini. Allah mengatakan, maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu pekerjaan, maka kerjakanlah urusan yang lain dengan sungguh-sungguh (QS. 94 : 7), dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa-apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) (QS. 59 : 18). Ayat-ayat diatas mengingatkan pada manusia bahwa hidup ini memerlukan perencanaan baik untuk waktu dekat maupun untuk jangka panjang. Perlu ada perumusan tujuan dan perencanaan kerja, kemudian bekerja dengan rencana, dan kerjakanlah rencana itu serta lakukan evaluasi terhadap hasil kerja.



Memiliki Moralitas Yang Ikhlas
Orang yang ikhlas adalah melaksanakan tugasnya secara profesional, tanpa motivasi lain kecuali bahwa pekerjaan itu merupakan amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan memang begitulah seharusnya. Kalaupun ada imbalan, itu bukanlah tujuan utama melainkan sekedar akibat sampingan dari pengabdian dirinya yang murni.


Memiliki Kejujuran
Jujur dalam bahasa Arab disebut shidik, artinya benar. Kejujuran adalah bisikan hati yang secara terus-menerus mendesak dan membisikkan nilai moral luhur yang didorong kecintaan pada Ilahi. Kejujuran bukan datang dari luar dan bukan pula sebuah keterpaksaan, melainkan sebuah panggilan dan kesadaran dari dalam diri sendiri. Diantara kejujuran yang melekat pada diri pribadi muslim adalah jujur pada diri sendiri yaitu menampakkan dirinya yang sejati menurut apa adanya. Ia bertanggung jawab atas seluruh ucapan dan perbuatannya. Orang yang jujur terhadap diri sendiri, menyadari keberadaannya hanya memberi makna bila memberikan manfaat bagi orang lain secara terbuka tanpa kepalsuan, apalagi menyembunyikan fakta kebenaran atau memanipulasinya. Oleh sebab itu jujur pada diri sendiri dimulai dengan sikap disiplin, taat dan berani untuk mengakui kemampuannya sendiri. Ia mampu mengendalikan diri dan tidak ingin memaksakan kehendak, apalagi keinginannya tidak sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.Orang yang jujur pada diri sendiri, berarti memiliki keterbukaan jiwa yang sangat transparan. Tidak ada yang tersembunyi dari kesadaran nuraninya. Dengan terbuka ia mengakui kelemahan dirinya sendiri dan dengan terbuka pula ia akan menerima kebenaran atau kelebihan dari orang lain.


Memiliki Komitmen
Komitmen adalah keyakinan yang mengikat yang demikian kukuhnya membelenggu hati nurani dan kemudian menggerakkan perilaku menuju arah tertentu yang diyakini. Orang yang berkomitmen memungkinkan dirinya berjuang keras menghadapi tantangan dan tekanan yang bagi orang yang tidak memiliki komitmen tantangan dan tekanan itu dirasakannya sebagai beban berat dan menimbulkan stres. Mereka yang memiliki komitmen tidak mengenal kata menyerah. Mereka hanya akan berhenti menapaki cita-cita dan jalan yang lurus bila hidupnya berakhir.


Istiqamah, Kuat Pendirian
Istiqamah berarti tetap dan tegar dalam kebenaran sekalipun berhadapan dengan rintangan. Orang yang istiqamah memiliki sikap taat azas, pantang menyerah dan mampu mempertahankan prinsip serta komitmennya, walaupun harus berhadapan dengan resiko yang membahayakan dirinya.


Memiliki Kedisiplinan
Disiplin yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tenang dan tetap taat, walaupun dalam situasi yang sangat menekan. Pribadi yang berdisplin sangat berhati-hati dalam mengelola pekerjaan serta penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya itu. Disiplin merupakan tiang utama etos kerja produktif. Umat Islam melalui ibadahnya seperti shalat, shaum, zakat dan haji telah dididik dan dilatih untuk bersikap disiplin tepat waktu dan tepat kerja.



Konsekuen dan Berani Menghadapi Tantangan
Bagi orang yang konsekuen dan berani menghadapi tantangan hidup adalah pilihan dan setiap pilihan merupakan tanggung jawabnya. Mereka tidak mungkin menyalahkan pihak manapun karena pada akhirnya semua pilihan ditetapkan oleh dirinya sendiri. Orang ini memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan dan menjaga apa yang telah menjadi keputusan atau plihannya. Rasa tanggung jawab mendorong ia berperilaku dianamis dan mengelola emosinya dengan baik dan tenang.


Memiliki Sikap Percaya Diri
Pribadi muslim yang percaya diri tampil dengan selalu optimis dan menenangkan. Berani mengambil keputusan yang sulit walaupun harus membawa konsekuensi berupa tantangan atau penolakan. Sikap percaya diri dapat dilihat dari beberapa ciri kepribadiannya antara lain :
  • Mereka berani untuk menyatakan pendapat atau gagasannya sendiri, walaupun hal tersebut beresiko tinggi misalnya menjadi orang yang tidak populer atau malah dikucilkan.
  • Mereka mampu menguasai emosinya, berfikir dengan tenang dan jernih walaupun dalam tekanan yang berat.
  • Mereka memiliki kemandirian yang sangat kuat sheingga tidak mudah terpengaruh oleh sikap orang lain, walaupun pihak lain adalah mayoritas. Baginya kebenaran tidak selalu dicerminkan oleh kelompok yang banyak.Orang yang memiliki sikap percaya diri kebahagiaan tidak terletak pada ukuran-ukuran lain tetapi pada pilihan yang diyakini.

Mereka Orang Yang Kreatif
Orang yang kreatif yaitu mencari alternatif-alternatif tentang sesuatu yang dihadapi dan melakukan kegiatan yang bersifat perenungan serta membiasakan diri untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan terutama pertanyaan yang bersifat konseptual. Ia melihat sesuatu dibalik yang tampak dan memiliki kemampuan berfikir abstrak. Ciri-ciri orang yang kreatif adalah :
  • Kuatnya motivasi untuk berprestasi
  • Komitmen terhadap tugas
  • Inisiatif dan optimisme
Dalam ajaran Islam bekerja dan berkreasi merupakan suatu upaya nyata untuk menciptakan hari esok yang lebih baik dari keadaan sekarang. Orang yang keadaannya pada hari ini lebih baik dari pada keadaannya kemarin merupakan orang yang beruntung. Sebaliknya sekiranya orang itu keadaannya kemarin dan hari in sama, maka orang itu termasuk yang merugi. Dan apabila keadaan orang tersebut pada hari ini lebih baik atau jelek dari pada keadaannya pada hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka.


Bertanggung Jawab
Tanggung jawab adalah sebagai sikap dan tindakan seseorang didalam menerima sesuatu sebagai amanah dengan penuh kesadaran dan ingin menunaikannya dalam bentuk pilihan-pilihan yang melahirkan amal shaleh. Harta, jabatan dan keluarga bahkan hidup harus diberi arti sebagai amanah karena didalamnya ada muatan tanggung jawab untuk memelihara, mengembangkan dan meningkatkan kepada yang lebih baik. Amanah adalah titipan yang konsekuensinya tanggung jawab. Bila tanggung jawab telah ditunaikan berarti kewajiban telah dilaksanakan dan akhirnya hati merasa aman dan terbebas dari segala tuntutan.


Bahagia Karena Melayani
Melayani atau menolong seseorang merupakan bentuk kesadaran dan kepedulian terhadap nilai kemanusiaan. Memberi pelayanan dan pertolongan merupakan investasi yang kelak akan dipetik keuntungannya, tidak hanya di akhirat, tetapi di duniapun akan dapat dirasakan.
Orang yang bahagia karena melayani akan menjadikan dirinya sibuk memberikan pelayanan. Ia ingin menjadi orang yang bermakna bagi orang lain dan bahagia apabila hidupnya dipenuhi dengan pelayanan. Nabi Muhammad sebagai contoh teladan bagi umat manusia menyatakan bahwa dirinya hanya seorang pelayan dan utusan Allah. Setiap pribadi muslim harus senang untuk melayani karena melayani disamping merupakan ibadah juga berarti menjadikan diri sebagai orang yang bermanfaat kepada orang lain.
Memiliki Harga Diri
Yang dimaksud memiliki harga diri disini adalah bertahan atau tidak melibatkan diri apalagi menjerumuskan diri kepada hal-hal yang tercela dan tidak bermakna. Untuk dapat menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela dan tidak bermakna memerlukan tekad yang kuat dan pembiasan-pembiasan diri dalam bertingkah laku mulia dengan sungguh-sungguh. Diantara ciri orang yang memiliki harga diri, antara lain :
  • Konsisten dengan kebenaran
  • Persesuaian antara perbuatan dengan ucapan
  • Suka melayani dan mengutamakan kepentingan bersama
  • Menghormati setiap orang yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia
  • Bersih hati dan perbuatan dari sifat-sifat tercela lainnya seperti riya, sombong, angkuh, iri, dengki dan egoistic
  • Sederhana dalam berbagai hal

Memiliki Jiwa Kepemimpinan
Allah mengatakan manusia khilafah di bumi (QS. 2 : 30) yang berarti mengambil peran sebagai pemimpin dalma kehidupan di bumi. Nabi Muhammad menegaskan lebih lanjut setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya.
Memimpin berarti mengambil peran secara aktif untuk mempengaruhi dirinya dan memberikan inspirasi teladan bagi orang lain. Seorang pemimpin adalah seorang yang mempunyai konsep dan personalitas yang tinggi. Ia terbuka terhadap kritik dan menerima serta mengikuti apa yang terbaik. Ia seorang yang berfikir kritis analistis (QS. 17 : 36) dan memiliki pandangan atau wawasan ke depan. Ia dapat hidup mandiri dan aktif memberikan arti bagi orang lain dan lingkungannya.
Bila jiwa kepemimpinan itu dikembangkan lebih lanjut akan melahirkan pemimpin-pemimpin baik dalam arti formal maupun tidak. Seorang pemimpin agar dapat menjalankan tugasnya dengan cukup efektif ia perlu memiliki ketentuan dan sifat-sifat sebagai berikut;
  • Stamina
  • Ada sesuatu yang diperjuangkan
  • Pemimpin harus punya pengikut
  • Energi
  • Kecakapan
  • Kecerdasan
  • Karakter
  • Pemimpin haruslah berfikiran bersih dan jujur
  • Simpati

Berorientasi Ke Masa Depan
Seorang pribadi muslim tidak mau berspekulasi dengan masa depan dirinya. Dia harus menetapkan sesuatu tujuan yang jelas dan seluruh tindakannya diarahkan kepada pencapaian tujuan yang telah ditetapan itu. Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (QS. 59 : 18). Keberhasilan masa depan berhubungan erat dengan kehidupan sekarang. Bila masa depan diharapkan adanya keberhasilan, maka sekarang perlu ada perencanaan yang terarah, usaha yang sungguh-sungguh dan perkiraan-perkiraan hambatan serta cara-cara mengatasi hambatan tersebut untuk menuju hasil yang optimal.


Hidup Berhemat dan Efisien
Orang yang berhemat adalah orang yang mempunyai pandangan jauh ke depan (QS : 59 : 18, 16 : 10-11). Berhemat bukan berarti memupuk kekayaan yang melahirkan sifat kikir dan individualistik, tetapi karena ada semacam kesadaran bahwa waktu itu tidak selamanya berjalan seperti yang diharapkan. Jadi berhemat merupakan estimasi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang dan menyikapinya dengan tenang karena sudah diperkirakan dan disiapkan solusi untuk mengatasi sesuatu keadaan yang tidak normal. Efisien, berkaitan erat dengan cara melaksanakan sesuatu dengan benar, tepat dan akurat, tanpa memubazirkan waktu dan potensi-potensi lain kepada yang seharusnya tidak perlu.


Memiliki Jiwa Wiraswasta
Orang yang memiliki jiwa wiraswasta biasanya selalu melihat setiap segi kehidupan sebagai peluang. Cara berfikirnya sangat analistis. Rosulullah sebagai contoh terhadap umat manusia dalam hidupnya pernah menjadi penggembala dan berniaga ke Syam. Hal ini seakan-akan sebuah sebuah latihan panjang untuk mendapatkan makna kewiraswastaan. Seseorang yang memiliki jiwa wiraswasta umumnya mempunyai sifat-sifat sebagai berikut;
  • Memiliki niat yang kuat dan tidak ada kata menyerah dalam menghadapi tantangan
  • Percaya diri : memiliki keberanian untuk mengambil keputusan dan memikul segala resikonya
  • Terbuka dan mau bekerja sama dalam mengembangkan diri
  • Mempunyai perhatian yang besar terhadap segala hal walaupun hal yang kecil
  • Tidak puas hanya dengan apa yang ada dan selalu mencari terobosan baru
  • Tidak melihat setiap kendala atau masalah sebagai hambatan, tetapi melihatnya sebagai persyaratan untuk maju
  • Setiap tindakan atau keputusannya didasarkan pada perhitungan yang objektif, nalar dan faktual
  • Dalam upaya pengembangan usaha selalu menjalin komunikasi dan mengembangkan jaringan informasi yang memperbanyak jaringan kerjanya
  • Senang pada kompetisi karena dengan berkompetisi seseorang dapat mengetahui posisi usahanya, keadaan pasar dan sekaligus belajar dari para pesaing
  • Tidak takut terhadap perubahan bahkan para wiraswastawan adalah orang-orang yang senang dengan perubahan.

Memiliki Insting Berkompetisi
Hidup adalah berjuang untuk beramal shaleh. Salah satu harkat dan martabat manusia baik di mata manusia maupun dalam pandangan Allah adalah amal shaleh. Oleh sebab itu manusia yang ingin menjaga dan mempertahankan harkat dan martabatnya tentu akan siap dan terus berkompetisi untuk memperbanyak amal kebaikannya. Berkompetisi dalam kebaikan adalah perintah Allah (QS. 2 : 148) yang harus dilaksankan. Perintah berkompetisi mengajak manusia tidak boleh menyerah pada kelemahan dan kegagalan serta menggiring manusia menjadi orang yang ulet dan gigih serta optimis dalam berbagai segi kehidupan.


Keinginan Untuk Mandiri
Islam agama yang sangat menghargai kemandirian. Karena kemandirian di samping dapat mengembangkan potensi yang dimiliki dengan maksimal juga akan menjauhkan diri dari ketergantungan kepada orang lain. Orang yang mandiri akan merasa risih apabila memperoleh sesuatu secara gratis dan merasa malu untuk menerima sesuatu, walaupun apa yang diterimanya itu halal dan keluar dari hati yang ikhlas. Orang yang mandiri berusaha menjadi orang yang melayani dan bukan dilayani karena dilayani berarti menyusahkan (merepotkan) orang lain. Sedangkan melayani berarti bermanfaat kepada orang lain.


Kemauan Belajar dan Mencari Ilmu
Wahyu Allah yang pertama diterima oleh Nabi Muhammad (QS. 96 : 1-5) sangat erat hubungannya dengan belajar dan menuntut ilmu pengetahuan. Belajar dan mencari ilmu dalam pandangan Islam tidak dibatasi oleh usia dan tempat. (Nabi mengatakan "Tuntutlah ilmu pengetahuan semenjak dari buaian sampai ke liang lahat, tuntutlah ilmu sekalipun ke Negeri Cina"). Kewajiban belajar nilainya sama dengan kewajiban ikut berjuang ke medan perang (QS. 9 : 122). Derajat orang yang memiliki ilmu pengetahuan tidak sama dengan orang yang tidak memiliki  ilmu pengetahuan (QS. 39: 9) dan orang yang berilmu derajatnya ditinggikan oleh Allah beberapa derajat (QS. 58 : 11). Umat Islam di zaman yang lalu lebih kurang 650-1250 M mengalami kejayaan dalam penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Diantaranya penyebabnya adalah umat Islam waktu itu rajin melakukan penelitian, observasi, belajar dan menuntut ilmu pengetahuan serta menterjemahkan buku-buku Yunani kedalam bahasa Arab.


Memiliki Semangat Perantauan
Salah satu ciri pribadi muslim yang memiliki etos kerja adalah adanya suatu dorongan untuk melakukan perantauan. Dengan menjelajahi hamparan bumi ditemukan berbagai peristiwa budaya yang dapat dijadikan pelajaran dan akan menyebabkan seseorang memiliki wawasan universal dan tidak terperangkap dalam fanatisme sempit. Pengalaman dalam perantauan akan melatih seseorang untuk mampu mandiri dan menyesuaiakan diri serta pandai menyimak dan menimbang budaya orang lain, sehingga akan membentuk kepribadian seseorang untuk senantiasa berbuat baik mampu mmbaca budaya dan situasi. Dengan memiliki wawasan seperti ini seorang muslim akan menjadi manusia yang bijaksana dan mampu membuat pertimbangan yang tepat serta setiap keputusannya lebih mendekati kepada tingkat ketepatan yang terarah dna benar. Pengalaman perantauan juga akan melatih seseorang untuk bersikap realistis dn demokratis serta toleran dalam berbagai perbedaan yang ada dalam kehidupan umat manusia.


Memperhatikan Kesehatan dan Gizi
Etos kerja pribadi muslim adalah etos yang sangat erat kaitannya dengan cara pemeliharaan kesehatan dan kesegaran serta kebugaran jasmani. Karena tidak mungkin seseorang dapat bekerja dan melaksankan tugasnya dengan optimal bila tidak didukung oleh fisik yang sehat. Salah satu cara untuk menjadi sehat adalah dengan memilih dan mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Allah menyuruh manusia untuk memperhaitkan apa yang dimakannya (QS 80 : 24), yaitu makanan yang halal dan baik (bergizi tinggi dan memberikan efek kimiawi yang menguntungkan pada tubuh (QS 2 : 168) dan makanan yang sedap serta baik akibatnya (QS 4 : 4). Secara spesifik Al-Qur'an memberikan beberapa jenis makan dan menurut  penelitian jenis-jenis makanan itu mengandung kalori yang cukup tinggi dan sehat, misalnya : daging (QS 16 : 5), ikan (QS 16 : 14) dan susu (QS 16 : 66). Islam agama yang menuntut manusia untuk selalu memperhatikan dan menjaga kesehatan karena kesehatan sangat menunjang untuk melaksanakan semua amanah yang dibebankan Allah kepada manusia.


Tangguh dan Pantang Menyerah
Di antara ciri dan cara dari kepribadian muslim yang mempunyai etos kerja adalah bekerja keras, ulet dan pantang menyerah. Keuletan merupakan modal yang sangat besar didalam menghadapi segala tantangan atau tekanan. Bilan direnungkan hidup ini tidak terlepas dari tantangan karena hidup itu sendiri penuh dengan tantangannya. Hanya saja banyak orang yang tidak menyadarinya dan berharap tidak ada tantangan. Bagi seseorang memiliki etos kerja tantangan adalah suatu hal yang biasa dan merupakan tangga untuk menuju cita-cita dan keberhasilan. Oleh sebab itu tantangan disadari sebagai bagian dari kehidupan yang harus dilalui dengan sungguh-sungguh dan tekun, pantang menyerah dan putus asa (QS 12 : 87) karena putus asa bukan etos kerja pribadi muslim.


Berorientasi Pada Produktivitas
Seorang muslim seharusnya menghayati makna firman Allah (QS 17 : 27) dengan sangat tegas melarang sikap mubazir. Dalam arti seorang muslim seyogyanya berperilaku yang selalu mengarah pada cara kerja yang efisien dengan hemat energi dan penggunaan waktu yang penuh makna. Perilaku seperti in merupaka modal dasar dalam upaya untuk menjadikan diri seseorang sebagai manusia yang selalu berorientasi kepada nilai-nilai produktif. Pribadi muslim adalah manusia yang memperhatikan produktifitas (QS 18 : 7). Dirinya akan merasa hampa, tidak berarti dan menyesal apabila kehidupannya tanpa makna dan tidak produktif.


Memperkaya Jaringan Silaturahmi
Pribadi yang memiliki etos kerja akan menjadikan silaturahmi sebagai salah satu ruh pengembangan dirinya. Karena silaturahmi bukan saja memiliki nilai ibadah tetapi dapat memperlancar gerak kehidupan. Diantara keuntungan silaturahmi adalah;
  • Memberikan nilai ibadah
  • Apabila dilakukan dengan kualitas akhlak yang mulia akan memberikan kesan positif bagi orang lain sehingga ia akan dikenang, dicatat dan dibicarakan orang
  • Dapat memberikan satu alur informasi yang membuka peluang dan kesempatan usaha
  • Mendapat pelajaran yang berharga dari pengalaman pribadi orang lain.
Silaturahmi sangat dianjurkan dalam Islam dan ia merupakan lampu penerang dalam tatanan pergaulan kehidupan. Bila silaturahmi dilakukan dengan penuh tanggung jawab, maka dalam perkembangan selanjutnya dapat mengangkat martabat diri seseorang dihadapan manusia.


Memiliki Semangat Perubahan
Pribadi yang memiliki etos kerja sangat menyadari bahwa manusia adalah makhluk Allah yang memiliki kebebasan untuk memilih. Allah, sebagai pencipta manusia sangat demokratis "Sesungguhnya Ia tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" (QS. 13 : 11). Kedatangan para Rasul esensinya adalah untuk merubah kondisi suatu masyarakat yang ada pada masanya. Contohnya nabi Muhammad diutus untuk memperbaiki akhlak manusia dari perilaku jahiliyah kepada perilaku yang terpuji dan mulia. Dalam ajaran Islam ada kewajiban sosial seperti tolong-menolong, saing nasihat menasihati dan saling mengingatkan untuk menjauhkan perbuatan keji dan munkar serta mengajak untuk melakukan perbuatan yang makruf dan terpuji. Semua hal ini intinya adalah perubahan kepada keadaan yang lebih baik.
Umat Islam seyogyanya memiliki etos kerja seperti yang disebutkan di atas karena Islam agama yang sangat menghargai pekerjaan seseorang sebagai aplikasi iman dan ibadahnya kepada Allah. Lebih dari tujuh puluh ayat dalam Al-Qur'an yang menyebutkan bahwa iman sejalan dengan amal shaleh (kerja). Seorang yang beriman biasanya ia bekerja karena seruan dan perintah dari Allah sebagai ibadah kepadaNya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar